Minggu, 13 November 2016

Dirjen Bimas Hindu: Bantuan Pasraman Minimal 500 Juta



(Bimas Hindu Jatim) - Agama Hindu merupakan agama praktek yang bermetode, memiliki banyak pilihan, serta semuanya membawa pembebasan. Melalui praktek agama, orang akan mengerti rasa Ketuhanan sekaligus akan menambah wawasan dan pengalaman.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Ketut Widnya, Ph.D dalam Simakrama umat Hindu di Balai Desa Ngadiwono, Pasuruan, Jawa Timur. Ia mengungkapkan agama Hindu merupakan agama yang kuat namun rentan konflik internal. “Agama Hindu tidak bisa dihancurkan dari luar, justru sebaliknya agama Hindu bisa hancur dari faktor dalam,” ungkap Ketut Widnya, Sabtu (12/11/2016).
Selain itu, Ketut Widnya berjanji nantinya akan memberikan bantuan pasraman minimal 500 juta. Selain itu, ia juga berjanji akan memberikan bantuan gamelan. Bahkan salah satu anggota Komisi 8, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Imam Haromain berharap agar keberadaan Pura di Jawa Timur diperhatikan.
Beberapa persoalan yang sering dihadapi oleh umat Hindu antara lain malas dan tidak rukun. Ketut Widnya menambahkan hendaknya Kementerian Agama, khususnya umat Hindu mengutamakan kerukunan. Beberapa konsep wajib dilaksanakan, antara lain konsep Ksamawan atau kesabaran sekaligus memaafkan, dan Wasudewa Kutumbakam atau kita semua bersaudara.
Widnya berharap agar umat Hindu bisa menjaga hubungan internal umat beragama, antar umat beragama, dan dengan pemerintah. “Jangan sampai kehilangan tongkat kedua kali, dan jangan sampai kesalahan seperti konflik umat terdahulu terulang kembali,” pungkas Widnya.








Selasa, 25 Oktober 2016

Bersatu Dalam Mahasabha XI Untuk Kemajuan Bangsa Indonesia



Suasana demokratis sangat terasa dalam Mahasabha XI di Hotel Utami, Sidoarjo, Jawa Timur.  Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 22 – 24 Oktober berhasil memilih beberapa sosok pemimpin terbaik demi kemajuan Bangsa Indonesia.

Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba terpilih menjadi Dharma Adyaksa periode 2016 – 2012 menggantikan Ida Pedanda Gede Sebali Tianyar Arimbawa. Selanjutnya Kolonel (Pur) I Nengah Dana terpilih menjadi Ketua Sabha Walaka menggantikan Marsekal TNI (Pur) Ida Bagus Putu Dunia. Adapun Mayjen TNI (Pur) Wisnu Bawa Tanaya berhasil menjadi Ketua Umum Pengurus Harian PHDI menggantikan Mayor Jenderal TNI (Purn) S.N. Suwisma.
Dirjen Bimas Hindu Prof. I Ketut Widnya, Ph.D mewakili Menteri Agama mengatakan Mahasabha merupakan jembatan emas bagi umat Hindu untuk memperkuat misi memantapkan kerukunan intra dan antar umat beragama. Umat Hindu secara nyata dipanggil memberikan  berkontribusi nyata dalam memantapkan kerukunan, baik kerukunan intern maupun antarumat beragama lainnya.
“Khusus misi ini memang sengaja saya tekankan karena kita masih dan terus akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan disharmoni. Tantangan ke depan tidak lebih ringan dari pengalaman disharmoni yang telah kita lalui selama ini,’’ kata Ketut Widnya, Senin (24/10/2016).
Ia menambahkan, gangguan kerukunan akan semakin canggih, konflik bernuansa SARA juga akan semakin kompleks, sehingga penanganannya tidak bisa lagi dengan cara-cara yang biasa tetapi harus terencana, sistemik, komprehensif, holistik dan paling penting tersedianya kanal early warning.

Kemajuan Bangsa Indonesia
Pada pembukaan Mahasabha XI di Graha Samudra Bumimoro, Surabaya, Wakil Presiden, Jusuf Kalla memberikan penghargaan kepada umat Hindu yang mampu menjaga persatuan dalam Mahasabha ke-XI Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Menurutnya, negara punya misi besar dalam hal persatuan ini, oleh karena itu negara memberikan kesempatan besar kepada siapa saja, tanpa memandang apa kepercayaannya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan bangsa.
“Marilah kita semua saling belajar menjalankan profesi dengan sebaik-baiknya demi kemajuan bangsa. Yakni dengan kehadiran hati dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan,” kata Jusuf Kalla.
Gubernur Jatim, Soekarwo dalam sambutan mengucapkan selamat datang kepada Jusuf Kalla Wakil Presiden, serta para undangan dan beberapa menteri yang hadir dalam majelis, dengan mengagendakan penentuan pengurus PHDI.
Turut hadir dalam pembukaan Mahasabha XI, Menteri Koperasi dan UMKM AA Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. *Titah















Kamis, 20 Oktober 2016

Bantuan Gamelan Jawa Bimas Hindu Jatim: Ajak Umat Hindu Kediri Cintai Budaya Leluhur







(Bimas Hindu Jatim) - Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan seperangkat gamelan Jawa kepada Pasraman Pura Agung Kertha Bhuwana, Kabupaten Kediri.
Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya mengatakan pemberian bantuan tersebut untuk meningkatkan dan mendorong kreatifitas berkesenian keagamaan umat Hindu di Kabupaten Kediri.
Dalam rangka memenuhi keinginan Pasraman Pura Agung Kertha Bhuwana Kabupaten Kediri untuk  menumbuhkan dan meningkatkan rasa kecintaan terhadap nilai-nilai budaya serta melestarikan budaya agama Hindu melalui seni karawitan, maka Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur memberi bantuan seperangkat gamelan Jawa sebagai wujud pelayanan pemerintah kepada umat Hindu,” kata Ida Made Windya, M.Ag di Pasraman Pura Agung Kertha Bhuwana, Kamis (20/10/2016) didampingi PPK Bimas Hindu Jatim (H. Sugianto, S.Sos., M.Pd.I), Pejabat Pengadaan (Hikmatul Hilmiyah, ST), Bendahara Pembantu Pengeluaran Bimas Hindu, (Kudari, S.Ag).
Ida Made Windya berharap bantuan tersebut dapat memotivasi umat dalam mencintai budaya leluhur serta dimanfaatkan dalam event event keagamaan. Penyerahan bantuan diterima langsung oleh Ketua Pasraman Pura Agung Kertha Bhuwana, Drs. Suparlan, serta disaksikan langsung oleh umat Hindu Kediri.
“Gamelan Jawa ini akan kami pergunakan untuk mengiringi upacara-upacara keagamaan umat Hindu di Kabupaten Kediri sekaligus untuk kegiatan kesenian lainnya,” pungkas Suparlan. *Titah









Senin, 10 Oktober 2016

Ganesa Parwati, Pasraman Formal Pertama di Jawa Timur















(Bimas Hindu Jatim) - Terwujudnya masyarakat Hindu yang memiliki daya saing, kualitas, kemampuan, serta pengetahuan tentang agama Hindu merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kemenag RI.
Terbitnya Peraturan Menteri Agama No 56 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu disambut baik oleh masyarakat Hindu. Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu, baik formal maupun non formal dalam wadah pasraman kini mulai banyak bermunculan.
Tim visitasi Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kemenag RI memverifikasi tujuh pasraman di Jawa Timur yang telah terdaftar, antara lain Utama Widya Pasraman Ganesha Parwati, Pratama Widya Pasraman Ganesa Parwati, Pasraman Non Formal Purwa Dharma 1, Pasraman Non Formal Purwa Dharma 2, Pasraman Non Formal Purwa Dharma 3, Pasraman Non Formal Purwa Dharma 4, dan Pasraman Non Formal Purwa Dharma 5.
Kepala Sub Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, I Gede Jaman mengatakan Pasraman Formal dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu, Pratama Widya Pasraman (TK/PAUD), Adi Widya Pasraman (SD), Madyama Widya Pasraman (SMP), Utama Widya Pasraman (SMA) dan Maha Widya Pasraman (Perguruan Tinggi). Sedangkan Pasraman Non Formal berbentuk Pesantian dan Aguron - Guron.
“Tujuan penyelenggaraan pasraman agar peserta didik memiliki kemampuan, pengetahuan, sikap dan ketrampilan, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab,” kata Gede Jaman belum lama ini di Banyuwangi.
Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya mengungkapkan pendidikan pasraman bertujuan untuk melengkapi pendidikan agama di sekolah formal dalam rangka meningkatkan sradha dan bhakti peserta didik.
“Peran serta masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di pasraman. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah kreatif dan inovatif untuk mendorong tumbuhnya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan,” ungkap Ida Made Windya.
Ketua Yayasan Ganesa Parwati, Supriyono mengatakan Pratama Widya Pasraman telah beroperasi sejak tahun 2008 di Kec. Purwoharjo, Banyuwangi. Sedangkan Utama Widya Pasraman baru beroperasi pada tahun 2016. Kesuksesan Yayasan Ganesa Parwati merupakan terobosan baru sekaligus dapat meneruskan program kerja pemerintah, khususnya bidang pendidikan, serta ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Anak ibarat kertas putih yang akan menjadi seperti apa yang dituliskan di dalam kertas putih tersebut,” kata Supriyono. Ia menambahkan, mereka merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dicetak dan dikader dari usia dini agar tercipta anak-anak bangsa yang cerdas dan berjati diri. Supriyono berharap Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI bisa mengeluarkan izin operasional bagi pasraman sehingga nantinya pendidikan bisa berjalan dengan kondusif dan representatif. *Titah

Rabu, 28 September 2016

Pembimas Hindu Jawa Timur: Agama, Seni dan Teknologi Harus Selaras



Semburat merah senja terpantul pada air pinggir yang tenang. Gemericik hujan yang telah mengguyur Jember sore itu baru saja reda.

Beberapa pengempon Pura Agung Amertha Asri tampak sibuk mempersiapkan sarana persembahyangan. Para penari pun asyik berias sambil sesekali bercanda ria menghangatkan suasana.
Pawintenan dan Pujawali Piodalan Pura Agung Amertha Asri yang berlangsung dari tanggal 10-17 September 2016 berlangsung khidmat dan semarak. Ratusan umat Hindu Jember hadir dalam piodalan tersebut.
Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya mengatakan antara agama, seni dan teknologi harus selaras. "Seni menghaluskan jiwa, agama mengarahkan jiwa, teknologi memudahkan hidup," kata Ida Made Windya belum lama ini dalam Dharmawacana yang ia sampaikan di Pura Agung Amertha Asri.
Ida Made menambahkan agama wajib menjadi pegangan bagi seluruh umat. Seperti mangga, jika dua orang memperdebatkan lebih dahulu mana antara pohon mangga atau buahnya.
Orang pertama mengatakan mangga, orang kedua mengatakan pohon mangga. Lalu orang ketiga tidak ikut berdebat, namun malah menikmati mangga tersebut dengan lahap. Begitu pula dengan beragama, yang harus dirasakan, dilakoni dan dipraktekkan, bukan malah diperdebatkan.
Sekretaris PHDI Kabupaten Jember, I Wayan Yasa mengatakan umat Hindu Jember mayoritas merupakan umat Hindu dari Bali. "Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, jumlah umat Hindu di Jember berjumlah 5532 jiwa dari total 31 kecamatan," kata I Wayan Yasa.
Solidaritas umat Hindu Jember patut diacungi jempol. Mereka punya cara unik untuk menjalin silaturahmi antar umat Hindu Jember, yakni dengan persembahyangan terpusat atau sentral. Biasanya, pada hari minggu setelah hari raya besar dilaksanakan, dilakukan persembahyangan bersama di pura yang telah disepakati.
"Misal pada hari raya Kuningan kali ini, umat sembahyang di pura masing-masing. Pada hari Minggu seluruh umat Hindu Jember melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Eka Prasetya Stiti Dharma, Desa Kepanjen, Gumukmas," ujar Wayan Yasa. Terdapat 7 KK yang masih bertahan di pura yang terletak sekitar 50 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Jember.
Ida Made Windya pun berjanji akan membantu pemugaran beberapa pura yang ada di Kabupaten Jember, termasuk pura Eka Prasetya Stiti Dharma, dengan syarat mengajukan proposal permohonan bantuan ke Bimas Hindu Jawa Timur yang nantinya akan diteruskan ke Ditjen Bimas Hindu Pusat. Ia berharap solidaritas umat Hindu Jember bisa mewujudkan kerukunan internal sehingga akan tercipta Hindu yang damai. *Titah