Minggu, 25 Mei 2014

Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri





Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri dikunjungi pada kali kedua kami ke Kawasan Wisata Gua Selomangleng, sesaat setelah meninggalkanMuseum Airlangga. Karena letak Pura Penataran Agung Kilisuci ini bersebelahan dengan Museum Airlangga, maka kami hanya berjalan kaki menuju ke lokasi pura saat matahari sudah mulai naik sepenggalah.
Dari jauh terlihat papan nama Pura Penataran Agung Kilisuci, dengan gapura Candi Bentar di depannya. Ada sepasang arca batu Dwarapala dengan gada di sebelah kaki, dipegang dengan posisi telapak tangan ke bawah. Gerbang Candi Bentar itu tertutup, sehingga kami berjalan sampai ke ujung, dan masuk halaman pura melalui pintu samping.
Nama akhir Pura Penataran Agung Kilisuci tentu diambil dari nama Dewi Kilisuci, nama lain dari Dewi Sanggramawijaya, sulung Raja Airlangga yang menjadi pewaris tahta Kerajaan Kahuripan. Namun Dewi Kilisuci memilih menyepi dan menjadi pertapa di Gua Selomangleng yang letaknya di ujung jalan, berjarak kurang dari 200 meter dari area pura.
Tampak depan Pura Penataran Agung Kilisuci yang dikelilingi tembok bata setinggi kepala yang terlihat sudah berumur dan terkesan sederhana. Halaman rumput di luar tembok tampak baru ditanami sejenis pepohonan, yang mudah-mudahan bisa cepat tumbuh dan besar untuk memberi keteduhan bagi para pejalan yang hendak berkunjung ke sana.
Halaman samping yang berada di wilayah bagian luar Pura Penataran Agung Kilisuci yang disebut Nista Mandala atau Jaba Sisi terlihat cukup luas, dengan pohon beringin cukup rimbun di bagian tengahnya, dan sebuah pendopo atau bale yang cukup besar dan tinggi. Beberapa buah lemari, papan pengumuman dan dua buah gong terlihat di sana.
Di Madya Mandala atau Jaba Tengah di kompleks Pura Penataran Agung Kilisuci ada lagi sebuah pohon beringin muda yang cukup besar. Di latar belakang tampak Kori Agung, yaitu gapura paduraksa yang menghubungkan Madya Mandala dan Utama Mandala, dengan satu pintu utama di tengah dan diapit dua pintu tambahan di kiri dan kanannya.
Jika di atas pintu gerbang candi biasanya terdapat ukiran Kala, maka di atas pintu gerbang Kori Agung Pura Penataran Agung Kilisuci ini dihias dengan relief pertapa dengan tangan bersedekap di depan dada dan duduk di atas bunga teratai. Sebuah arca kecil pertapa diletakkan pada setiap tingkat di atasnya yang jumlahnya ada tiga.
Pintu utamanya berukir indah dengan warna dominan keemasan. Dua naga putih bermahkota serta dua arca Dwarapala dengan gada ditangan menjadi penunggu gapura utama Kori Agung Pura Penataran Agung Kilisuci. Di masing-masing pintu tambahan juga terdapat sepasang arca Dwarapala, dengan bentuk dan posisi kaki yang berbeda.
Patung wanita cantik jelita menawan, mungkin Dewi Kilisuci, diletakkan di ujung kiri Madya Mandala Pura Penataran Agung Kilisuci. Jika saja ia bertangan empat dan memegang wina (kecapi), maka ia adalah Dewi Saraswati, istri Brahma. Bisa jadi Dewi Kilisuci dianggap sebagai representasi Dewi Saraswati, sebagaimana Dewa Wisnu untuk Raja Airlangga.
Hiasan pada Arca Dewi Kilisuci ini sangat halus, dengan warna pakaian serasi dan indah. Arca ini dikelilingi empat arca dewa berukuran kecil di keempat titik sudut bawahnya, yang mengingatkan saya pada bentuk wajah dan tubuh Batara Narada, dan mungkin dimaksudkan sebagai representasi Mpu Bharada, penasehat spiritual Airlangga.
Sebuah bangunan kecil menyerupai pos jaga berada di pojok depan Jaba Tengah kompleks Pura Penataran Agung Kilisuci yang di dalamnya disimpan kentongan kayu. Pura ini dibangun di atas tanah seluas 6.500 m2. Lokasinya yang berada di kaki perbukitan, bukan di pinggangnya, membuat hawanya tidak sesejuk Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.
Sayang kami tidak masuk ke Utama Mandala, tempat pemeluk agama Hindu biasanya bersembahyang, karena gerbangnya tertutup dan tidak ada penjaga yang bisa dimintai tolong. Bagaimana pun, sempatkan waktu untuk mampir berkunjung ke Pura Penataran Agung Kilisuci ketika anda sudah berada di kawasan wisata Gua Selomangleng Kediri.
Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri selengkapnya: 4.Kori Agung 5.Saraswati 6.Candi Bentar 7.Beringin 8.Samping 9.Tembok 10.Pendopo 11.Pintu Utama 12.Gapura Kanan 13.Pertapa 14.Naga 15.Gajah 16.Dwarapala 17.Ukiran Pintu 18.Merak 19.Dwarapala Duduk 20.Mpu Bharada 21.Kilisuci 22.Mahkota 23.Jaba Luar.
(Sumber: http://www.thearoengbinangproject.com/)


Selasa, 25 Maret 2014

NYEPI "MENCIPTAKAN BHUTA HITA MENUJU ALAM SUNYA"



Ri hěněng ikanang amběk tibrālit mahěning ahö/
Lěngit atisaya sunya jñana naśraya ya wěkasan/
Swayéng umiběki tan ring rat mwang déha tuduhana/
Ri pangawakira sanghyang tattwadhyatmika katěmu// (Nirartaprakerta)

(Ketika hati telah heneng, hening, halus dan cemerlang/ kemudian menyusup ke alam sunya, alam yang sempurna/ fikiran lalu bagaikan telah meliputi seluruh alam namun tidak diketahui dari mana datangnya/ orang yang telah mencapai tingkat itu adalah orang yang telah menemui hakikat kerohanian yang tertinggi).
Hari raya nyepi datang setahun sekali, yaitu pada Pananggal 1 Sasih Waiśaka sehari setelah Tilem Caitra. Hari ini dijadikan sebagai “Tahun Baru Śaka” ditandai dengan pelaksanaan “Brata Penyepian”. Dengan demikian hari raya Nyepi tidak sekedar pergantian Tahun Śaka, tetapi benar-benar dilandasi oleh nilai-spiritual. Wawasan kesemestaan dengan melihat posisi Surya dan Candra, renungan tentang ruang dan waktu sebagaimana tertuang dalam pelaksanaan bhuta yajña (persembahan kepada Bhuta dan Kala, pelaksanaan ajaran yoga dengan melaksanakan yama dan niyama brata membangun visi dan spirit untuk menghadapi masa datang. Terlebih lagi sepi atau sunya adalah sebuah kata kunci dalam ajaran agama Hindu yang mengandung makna kesempurnaan (purna).
Oleh karena itu Nyepi senantiasa menyajikan bahan renungan kepada kita, lebih lanjut mendorong kita untuk lebih mendalami ajaran agama Hindu.

Kamis, 20 Februari 2014

Download Area

Berikut adalah beberapa link download dari beberapa naskah yang
telah kami publikasikan....

1. Mantram/Doa Sehari-hari  klik disini






Selasa, 18 Februari 2014

Sembahyang, Mengapa?



 SEMBAHYANG, MENGAPA?
Salah satu hakekat inti ajaran agama adalah sembahyang. Menurut kitab Atharwa Weda XI. 1.1, unsur iman atau Sraddha dalam Agama Hindu meliputi: (1) Satya, (2) Rta, (3) Tapa, (4) Diksa, (5) Brahma dan (6) Yajna. Dari keenam unsur iman di dalam Agama Hindu menurut kitab Atharwa Weda itu, dua ajaran terakhir (Brahma dan Yajna) termasuk ajaran sembahyang.
Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu: (1) Sembah yang berarti sujud atau sungkem yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan, misalnya hanya sikap pikiran. (2) Hyang berarti yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Di dalam bahasa sehari-hari kata sembahyang kadang-kadang disebut “muspa” atau “mebhakti” atau “maturan”. Disebut “muspa” karena dalam persembahyangan itu lazim juga dilakukan dengan persembahan kembang (puspa). Disebut “mebhakti” karena inti dari persembahan itu adalah penyerahan diri setulus hati tanpa pamrih kepada Hyang Widhi. Demikian pula kata “maturan” yang artinya mempersembahkan apa saja yang merupakan hasil karya sesuai dengan kemampuan dengan perasaan yang tulus ikhlas, seperti bunga, buah-buahan, jajanan, minuman dan lain-lain.
Makna lain dari sembahyang adalah sebagai wujud syukur atas rejeki yang diberikan Hyang Widhi, sehingga kita wajib mempersembahkan/menghaturkan pemberian beliau terlebih dahulu. Setelah sembahyang baru kita “ngelungsur (prasadam)” apa yang telah kita haturkan, seperti canang, buah-buahan, dan sebagainya.

Senin, 17 Februari 2014

Berlindung Pada Shastra



BERLINDUNG PADA SHASTRA

Para Kawi Wiku sering mengibaratkan dewa pujaannya, Shiwa, halus tak terpikirkan seperti teka-teki abadi. Sungguh mencengangkan bila kita renungkan, betapa pencarian panjang seorang kawi akhirnya menemukan Shiwa itu sebagai sebuah pertanyaan atau teka-teki, yang jawabannya tidak harus sama antara satu perenungan dengan perenungan Kawi lainnya. Dalam doa pemujaan pada awal sebuah kakawin sering terbaca doa seorang kawi agar sembah bhaktinya melalui karya sastra sampai di depan debu kaki dewa pujaannya. Kita boleh menduga barangkali doa mereka benar-benar sampai di depan debu kaki Pujaannya. Dan apa yang mereka kemudian dapatkan di depan debu kaki itu? Ternyata, sebuah teka-teki yang rumusannya mungkin seperti ini: ia yang tidak bisa dipikirkan (acintya) tapi karenaNya pikiran bisa berpikir.
Penemuan teka-teki abadi itu tentu saja tidak terjadi tiba-tiba atau mendadak. Maksudnya, sudah pasti ada banyak teka-teki lain di jagat ciptaanNya yang menggiring para Kawi sehingga akhirnya sampai pada teka-teki tentang penciptanya.
Memang seperti itulah konon rute perjalanan wisata batin mereka, dari misteri ciptaannya menuju misteri penciptanya. Dan seperti yang dapat direnungkan dari karya-karya para Kawi itu, kita sangat diyakinkan bahwa bukan jawaban teka-teki itu yang akhirnya menjadi penting, tapi ketika batin telah sampai pada teka-teki itu sendiri. Itulah misteri dari apa yang disebut sampai. Begitu sampai, tidak ada lagi tujuan, tidak lagi ada siapa yang mencari dan siapa yang dicari, tidak ada lagi pertanyaan dan jawaban, yang bertanya hilang dan jawabannya tidak ada. Itulah yang dinamakan Teka-Teki oleh para Kawi: Shiwa yang berbadankan Teka-Teki!