Rabu, 14 Juni 2017

Siapkan Generasi Emas Hindu di Tahun 2045



Batu (Bimas Hindu) – Generasi muda merupakan ujung tombak dalam pembangunan bangsa. Menanamkan pendidikan agama Hindu sejak dini merupakan tujuan utama untuk membentuk karakter dan budi pekerti demi terciptanya generasi emas tahun 2045.
Hal tersebut disampaikan oleh Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Ida Made Windya. “Pendidikan karakter menentukan kulitas moral dan arah dari setiap generasi muda dalam mengambil keputusan dan tingkah laku,” tegas Ida Made Windya sekaligus membuka secara resmi kegiatan Orientasi Peningkatan Mutu Siswa Pada Sekolah Minggu/Pasraman Angkatan I di Hotel Kartika Wijaya Batu Heritage, Rabu (15/06/2017).
Ida Made Windya yang juga sebagai pemateri ‘Pengembangan Diri Siswa Pasraman’ menambahkan karakter merupakan bagian integral yang harus dibangun, agar generasi muda sebagai harapan bangsa, sebagai penerus bangsa yang akan menentukan masa depan harus memiliki sikap dan pola pikir yang berlandaskan moral yang kokoh dan benar dalam upaya membangun bangsa.
Saat bangsa ini berusia 100 tahun, akan lahir generasi yang cerdas komprehensif, yaitu anak bangsa yang produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul mutlak dibutuhkan untuk memenangkan kompetisi global tersebut. Generasi yang menjanjikan menuju bangsa yang besar, adil, makmur, dan bermartabat.
Ketua Panitia, Ni Putu Sinta Ismayarti mengungkapkan jumlah peserta mencapai 50 orang perwakilan dari masing-masing kabupaten dan kota se Jawa Timur. “Untuk angkatan I diisi oleh siswa-siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama dari masing-masing pasraman di Jawa Timur,” ungkap Sinta. Kegiatan yang mengambil tema ‘Membentuk Karakter dan Budi Pekerti Luhur Sesuai dengan Ajaran Dharma’ ini berlangsung dari tanggal 14 s/d 16 Juni 2017.
Salah satu pemateri ‘Dharma Gita’, Yuliana memaparkan tentang pentingnya Dharma Gita bagi umat Hindu, khususnya generasi muda. Keberadaan Dharma Gita di seluruh nusantara memberikan dukungan dalam membangun rasa keagamaan sesuai dengan budaya daerah masing-masing. Selain itu juga untuk meningkatkan penghayatan dan pemahaman ajaran agama Hindu.
Adapun beberapa pemateri yang turut mengisi antara lain Miswanto dengan materi ‘Pengenalan Huruf Dewa Nagari’, Nyoman Widhiarsana ‘Refleksi dan Kontemplasi’, ‘Merry Wahyu Kristina ‘Yoga Asanas’ dan Andrea Angga ‘Dinamika Kelompok dan Outbond’. *Titah


Senin, 29 Mei 2017

Orientasi Implementasi Kurikulum 2013: Kembangkan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual Anak






Malang (Bimas Hindu) - Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, anak zaman sekarang jauh lebih kritis dibandingkan anak zaman dahulu. Tantangan mereka pun semakin berat. Perlu adanya pendampingan serta pengawasan dari seluruh elemen masyarakat, khususnya orang tua dan guru sehingga mereka bisa menjadi generasi emas dan produktif pada masa mendatang.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H. Moch. Amin Mahfud, ketika memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Orientasi Implementasi Kurikulum 2013 Guru Pendidikan Agama Hindu Tingkat Dasar dan Menengah Angkatan 2 di Regent Park Hotel, Senin (29/05/2017).
“Hendaknya Kurikulum 2013 dirancang dan dipadukan dengan nilai-nilai agama Hindu agar anak-anak bisa menjadi pribadi yang cerdas intelektual dan spritual, baik, tangguh dan punya rasa peduli,” tegas H. Moch. Amin Mahfud.
Ketua Panitia, Ni Putu Sinta Ismayarti mengatakan peserta berjumlah 30 orang. Mereka merupakan perwakilan guru pendidikan agama Hindu tingkat dasar dan menengah dari masing-masing kabupaten/kota se Jawa Timur. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 29 s/d 31 Mei 2017.
Ia berharap melalui kegiatan ini seluruh peserta bisa menambah pengetahuan, keterampilan dalam mengajar sehingga mereka bisa memiliki motivasi tinggi untuk menjalankan tugasnya sebagai guru.
Pada kesempatan tersebut, H. Moch. Amin Mahfud membawakan materi ‘Kebijakan Kementerian Agama di Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan’, Kusnohadi dengan materi ‘Pengelolaan Pembelajaran Kontekstual dan Terpadu’, M.Musfiqon dengan materi Penilaian dan Pelaporan Hasil Belajar, I Nengah Parta dengan materi ‘Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu’ dan Ida Made Windya dengan materi ‘Manajemen Perubahan dan Budaya Sekolah’. (Titah)


Senin, 22 Mei 2017

Bangkitkan Peradaban Hindu Melalui Penguatan Pasraman



Surabaya (Bimas Hindu) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan Workshop Penyempurnaan Pedoman dan Panduan Jambore Pasraman Tingkat Nasional V Tahun 2017, 22 s/d 24 Mei di Hotel Grand Inna Tunjungan Surabaya.
Dirjen Bimas Hindu, I Ketut Widnya mengatakan pasraman merupakan wadah bagi generasi muda untuk belajar pendidikan agama Hindu. "Jumlah pasraman non formal hingga saat ini berjumlah 2611 pasraman. Pasraman merupakan proyek perubahan untuk kebangkitan Peradaban Hindu sekaligus menciptakan generasi muda Hindu yang berkualitas, berkarakter, serta memiliki kepekaan sosial," tegas I Ketut Widnya, Senin (22/05/2017).
Widnya menambahkan hal tersebut bisa diasah melalui tiga jenis kegiatan, antara lain kegiatan agama seperti yoga dan tri sandya yang akan menguatkan karakter. Lalu dilanjutkan dengan kegiatan seni yang akan menghaluskan budi dan kepekaan, serta kegiatan lomba yang mengajarkan sportifitas generasi muda Hindu.
Selain itu, melalui kegiatan workshop ini akan menyempurnakan pedoman yang nantinya akan menentukan kualitas penyelenggaraan jambore pasraman di Bali. 
Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H.Syamsul Bahri sangat mendukung kegiatan workshop Jambore Pasraman karena merupakan dasar bagi kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Hal tersebut juga tidak bisa lepas dari sejarah bangsa Indonesia.
“Melalui workshop ini tentu akan mengembalikan keberadaban Hindu. Sejarah keberadaban Hindu merupakan politik masa depan. Kita membangun konsep dari sejarah tanpa mengubah stabilitas yang ada. Bhinneka Tunggal Ika harus dibangun sehingga tercipta harmonisasi,” kata Syamsul Bahri.
Ketua Panitia, A.A. Anom Rai mengatakan kegiatan workshop Jambore Pasraman yang diikuti oleh 61 peserta ini mengambil tema ‘Melalui Workshop Penyempurnaan Pedoman dan Panduan Jambore Pasraman Tingkat Nasional Kita Bangun Selektivitas, serta Kualitas Juri dan Peserta’.
Hadir sebagai narasumber I Ketut Widnya dengan materi ‘Kebijakan Dirjen Pada Program Jambore Pasraman Tingkat Nasional V’, Nyoman Sutrantra dengan materi ‘Penyempurnaan Sistem Penilaian Kegiatan Jambore Pasraman Tingkat Nasional’, Trimo dengan materi ‘Evaluasi Pelaksanaan Sistem Jambore Pasraman Tingkat Nasional’ I Gusti Made Ngurah dengan materi ‘Penyempurnaan Pedoman dan Panduan Jambore Pasraman Tingkat Nasional V’, Ida Bagus Gede Subawa dengan materi ‘Peranan Kegiatan Jambore dalam Pembinaan Generasi Muda Hindu. *Titah

Sabtu, 29 April 2017

Dharma Santi Kabupaten Lumajang: Bangun Harmonisasi Wujudkan Bhinneka Tunggal Ika







Lumajang (Bimas Hindu) – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang menggelar Dharma Santi Kabupaten Lumajang di Pendopo Pura Mandara Giri Semeru Agung Senduro, Sabtu (29/04/2017).
Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H. Syamsul Bahri, mengatakan perbedaan dan keberagaman di Indonesia itu adalah sunahtullah.
“Mari kita bersama menjaga agama Hindu, membangun harmonisasi sehingga kelak bisa bisa menjadi umat Hindu yang baik demi terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Syamsul Bahri.
Syamsul Bahri yang berasal dari Negara, Bali ini menambahkan selain sebagai ajang silahturahmi, Dharma Santi juga bisa meningkatkan rasa persaudaraan dan kesatuan umat Hindu sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Menurutnya, kemajuan bangsa ini dapat tercapai dengan meningkat rasa persaudaraan. Hal tersebut mampu  mengatasi permasalahan bangsa yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan bangsa.
Bupati Lumajang, As'at Malik, yang diwakilkan oleh Plt. Kepala Kesbsngpol, Agung Prisembodo mengungkapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  merupakan harga mati. Pancasila bukan tiruan dari negara lain, namun sesungguhnya berasal dari Indonesia
Ia pun mengajak masyarakat agar tidak terpengaruh atau terprovokasi isu-isu yang mengakibatkan perpecahan bangsa. Sebab Indonesia lahir atas dasar persatuan dan kesatuan suku, agama, ras, dan antargolongan yang berjuang pada masa penjajahan.
Ketua Parisadha Kabupaten Lumajang, Edy Sumianto mengungkapkan ratusan umat Hindu hadir dalam Dharma Santi Lumajang tahun ini.
“Adapun tema yang diambil yakni Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI,” kata Edy Sumianto.
Edy juga berpesan bahwa Dharma Santi merupakan bagian dari aktualisasi ajaran Weda. Hal tersebut bisa diwujudkan dengan menjalin kebersamaan antar umat Hindu dalam bentuk Dharma Wacana, diskusi maupun saling menngunjungi.
Bahkan, terkait aktualisasi Weda tersebut, beberapa peserta Utsawa Dharma Gita (UDG) Kabupaten Lumajang pun akan berlaga dalam UDG tingkat Nasional di Palembang, Juli 2017 mendatang mewakili kontingen UDG Provinsi Jawa Timur.
Hadir dalam kesempatan tersebut Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya, serta Pendharma Wacana, I Nyoman Sutantra. Beberapa hiburan sukses memukau penonton antara lain tari Condong dan sendratari Bali Dwipa Jawa Jaya Nusantara.


Minggu, 23 April 2017

Gema Sumpah Palapa Warnai Dharma Santi Jawa Timur



Banyuwangi (Bimas Hindu) - Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Timur (PHDI) menggelar Dharma Santi dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi di Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Minggu (23/4/2017).

Tarian kolosal Kidung Maha Wilwatikta mampu membuat ribuan umat Hindu Jawa Timur terpukau. Tarian yang dibawakan 36 penari ini menceritakan ketegasan Ratu Tribuwana Tunggadewi menumpas pemberontak di daerah Sadeng. Patih Gajah Mada yang memimpin pasukan pun berhasil memadamkan api pemberontakan.

Lalu Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, yakni tidak akan makan makanan enak berbumbu rempah sebelum nusantara bersatu.

Ketua Panitia Dharma Santi Provinsi Jawa Timur, Suminto mengatakan, pihaknya memilih Banyuwangi menjadi tempat acara bukan tanpa alasan. Banyuwangi dianggap memiliki pertumbuhan ekonomi, pendidikan, budaya dan wisata yang baik.

"Banyuwangi juga belum pernah menjadi tempat Dharma Santi untuk saling bertemu antar umat. Umat Hindu di Banyuwangi juga yang terbesar di Jatim yakni mencapai hampir 40 ribu orang," kata Suminto. (Int)