Senin, 01 Desember 2014

Kontak Kami


BIMAS HINDU JAWA TIMUR
KANWIL KEMENAG JAWA TIMUR

Jl. Raya Bandara Juanda No.26, Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61253

Selasa, 11 November 2014

Pura Candi Cemara Agung



Alamat : Jl. Sambiarum Gg. III Blok 53,Kel. Sambikerep, Kec. Sambikerep, Surabaya
Piodalan : Sabtu Umanis Watu Gunung

Minggu, 02 November 2014

PEMBINAAN KKG GURU AGAMA HINDU DAN MGMP KABUPATEN BANYUWANGI




PEMBINAAN KKG GURU AGAMA HINDU DAN MGMP KABUPATEN BANYUWANGI


Banyuwangi, Oktober 2014 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur memberikan pembinaan Dinas bagi KKG/MGM GAH yang bertempat di Wantilan Pura Agung Blambangan yang terletak di Desa Tembok Rejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi yang didampingi oleh ketua KKG GAH dan MGMP, Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi beserta Pengawas Guru Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Yang dimana pertama-tama diawali sambutan Ketua KKG GAH menyampaikan ucapan selamat datang dan terimakasih kepada Pembimas Hindu Bapak Ida Made Windya, S.Ag menyempatkan diri hadir ke Kabupaten Banyuwangi untuk memberikan pengarahaan dan pembinaan kepada Guru Agama Hindu di kabupaten Banyuwangi.
Selanjutnya dilanjutkan dengan sambutan Pengawas Guru Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kab. Banyuwangi Bapak Sumardi Eko Putro, S.Ag dalam sambutanya beliau menyampaikan keadaan guru Agama Hindu di Banyuwangi dimana sering berjalanya waktu banyak guru agama Hindu yang pensiun dan tidak adanya keseimbangan pengangkatan guru agama hindu dengan pensiunya guru sehingga perlu dijadikan perhatian dalam sambutanya beliau juga menyampaikan bahwa dalam pembinaan ini dihadiri mulai dari guru TK sampai SMA baik guru yang sudah PNS maupun masih SUKUWAN ( Sukarelawan)
Sambutan ketiga diberikan oleh Ketua PHDI kabupaten Banyuwangi Bapak Suminto dalam sambutanya beliau menanggapi tentang pengangkatan guru agama Hindu yang disampaikan oleh Pengawas Guru Agama Hindu bahwa dalam tata cara pengangkatan CPNS dalam dewan legislatif harus adanya data valid  antara jumlah siswa dan guru agama yang tersedia sehingga perlu adanya penguatan kapasitas dan mengoptimalisasikan koordinasi antar lembaga keumatan beserta lembaga pemerintah dalam sambutanya beliau juga menyampaikan tentang kurikulum pendidikan agama Hindu yang cenderung Bali Oriented” Yang harus di evaluasi kembali supaya dapat menyentuh kearifan budaya Lokal masing-masing wilayah dikarenakan apabila kurikulum yang condong ke Bali-balian akan susah dserap oleh anak didik yang berasal dari luar Bali.
Yang terakhir yaitu pengarahaan dan pembinaan Pembimas Hindu Bapak Ida Made Windya, S.Ag  dalam pengarahaanya beliau menginformasikan tentang pengangkatan CPNS melalui jalur reguler hanya mendapatkan satu di Pemda Kabupaten Blitar dari seluruh kabupaten/Kota di Jawa Timur semua ini disebabkan karena kelemahan data yang kurang valid sehingga semua komponen lembaga harus bersinergi dalam pengambilan data baik data pendidikan maupun data Urusan agama Hindu

Dalam pengarahanya beliau menyampaikan kepada guru agama hindu yang sudah menerima Tunjangan Sertifikasi harus memperhatikan dan benar-benar melaksanakan tugas  sesuai dengan peraturan yang berlaku dimana jam mengajar yang diwajibkan sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam satu minggu dan apabila terjadi kekurangan jam mengajar maka guru yang bersangkutan dianjurkan mencari sekolah terdekat  untuk melengkapi jumlah jam mengajar dan apabila masih terjadi kekurangan juga maka jalan kedua yaitu dengan mengajar di Pasraman dengan SK dari Dinas Pendidikan agar dpat diakui dan syarat-syarat sertifikasi guru harus memenuhi persyaratan seperti memiliki SK, NUPTK yang sudah berbintang 4 dan sudah terupdate dan diusulkan melalu AP2SG setelah itu baru masuk ke ASG dan diberikan satu gaji pokok. Dalam kesempatan ini beliau menjelaskan keterlambatan pencairan Tunjangan sertifikasi Guru agama Hindu dan Tunjangan Penyuluh Non PNS yang disebabkan oleh adaanya data SPAM dari KPPN sehingga data yang diberiakan tidak sesuai dengan data yang berada di SPAM sehingga menyebabkan keterlambatan dalam pencairanya.





Kamis, 23 Oktober 2014

Jambore Pasraman Tingkat Nasional Tahun 2014




"Om Swastyastu"

Sidoarjo, Tanggal 13 Oktober 2014. Kontingen Jambore Pasraman Tingkat Nasional 2014 dilepas secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur dengan susunan acara sambutan Pembimas Hindu Provinsi Jawa Timur, sambutan Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur dan Pembacaan doa oleh Staf Bimas Hindu. Pada sambutan Pembimas Hindu Bapak Ida Bagus Made Windya, S.Ag menyampaikan   bahwa Jambore Pasraman Tingkat Nasional ini sangat penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan kreatifitas siswa pasraman guna mewujudkan insan yang memiliki sradha bhakti, memiliki etika/normatika yang baik.
Sehingga Kegiatan ini perlu terus digalakan ditengah-tengah harapan agar pendidikan  keagamaan Hindu yang saat ini menginginkan pola pendidikan yang seimbang antara fisik dan non fisik , pengembangan otak kanan dan otak kiri serta potensi-potensi lainya, seperti musikalitas, kinestetik ataupun intra dan antarpribadi peserta didik. Pengembangan potensi peserta didik melalui berbagai bentuk kegiatan tersebut, mempunyai maksud yang tidak hanya berorientasi jangka pendek, tetapi jauh ke depan sebagai bekal bagi peserta didik setelah menamatkan pendidikanya.
Pelaksanaan Jambore Pasraman Tingkat Nasional merupakan upaya untuk meningkatkan keterampilan keagamaan yang dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta didik. Oleh karena itu maka pendidikan keagamaan Hindu di samping dilaksanakan secara klasikal di ruang-ruang belajar, juga harus dilakukan melalui berbagai aktifitas keagamaan, seperti pemantapkan pelaksanaan persembahyangan Trisandhya dan Kramaning Sembah ; melatih diri melalui keterampilan Yoga Asanas; melatih diri dengan menciptakan dan melantunkan lagu Kreasi Keagamaan Hindu, membuat dan mendeklamasikan puisi Keagamaan; mengekspresikan konsep Hindu kedalam cerita Keagamaan Hindu yang dapat menjadi teladan siswa. Dan melatih kebersamaan kekeluargaan melalui kegiatan Out Bound juga dengan membiasakan diri melafalkan doa-doa. Kegiatan Jambore Pasraman Tingkat Nasional ini, bertujuan untuk menggali potensi, bakat, minat dan keahlian dari peserta didik dengan olah fikir dan olah ekspresi, sehingga nantinya mampu menjadikan dirinya sebagai insan yang berwawasan luas, berdediksi, cakap, dinamis, berintegrasi tinggi, sradha dan bhakti serta bertanggung jawab.
Tujuan penyelenggaraan Jambore Pasraman Tingkat Nasional III Tahun 2014 ini, adalah :
1.    Meningkatkan sradha dan bhakti peserta didik;
2.    Meningkatkan moral dan budi pekerti luhur;
3.    Meningkatkan solidaritas dan kebersamaan peserta didik;
4.    Meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI;
5.    Melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur seni dan budaya;
6.    Menumbuhkan dan mengembangkan perilaku hidup sehat lahir bhatin;
7.    Meningkatkan kreatifitas, keterampilan keagamaan serta sportifitas;
8.    Menjadi media berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Mata Lomba Jambore Pasraman Tingkat Nasional Tahun 2014 yaitu
1.      Yoga Asana Putri

2.      Yoga Asana Putra

3.      Bercerita Keagamaan Hindu

4.      Lagu Cipta Kreasi Keagamaan

5.      Lomba Puisi Keagamaan

6.      Lomba Pelafalan Doa Sehari-hari

7.      Lomba Mantram Trisandya

8.     Lomba Out Bound


Tema yang diusung dalam kegiatan ini yaitu  “jambore Pasraman Tingkat Nasional III 2014, sebagai Wahana Meningkatkan Solidaritas dan Kepekaan Untuk Kesadaran Generasi Muda Hindu dalam Tanggungjawab Membangun Masa Depan Bangsa” diselenggarakan tanggal 14 sampai dengan 19 Oktober 2014, Bertempat di Solo Jawa Tengah
                                            Ket : Juara III Lomba  Yoga Asanas Putra
                                           KET : Tirta Yatra di Candi Ceto- Jawa Tengah
Jambore Pasraman Tingkat Nasional III tahun 2014 juga diiringi dengan kegiatan Tirta yatra yang diikuti oleh seluruh Kontingen masing- masing daerah, Tirta Yatra atau dharma yatra adalah sebuah perjalanan suci dalam rangka pensucian diri secara lahir bhatin dimana Tirta Yatra ini difokuskan di Candi Ceto, Jawa Tengah yang bertujuan untuk meningkatkan kesucian pribadi dan memperkuat Sradha dan Bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan Menghayati nilai-nilai sejarah dari objek suci yang dikunjungi oleh seluruh peserta Jambore Pasraman
Adapun hasil yang diraih oleh kontingen Jambore Pasraman Tingkat Nasional Tahun 2014 yaitu :
1.      Juara I              : Lomba Mantra Trisandya
2.      Juara II            : Lomba Doa Sehari-hari
3.      Juara II            : Lomba Puisi Keagamaan Hindu
4.      Juara III          : Lomba Kramaning Sembah
5.      Juara III          : Lomaba Yoga Asanas Putra
6.      Juara III          : Lomaba Out Bond

By: Bimas Hindu

Minggu, 07 September 2014

Pura Sunialoka, Banyuwangi


Pura Sunialoka terletak di Dusun Tangjung Rejo, Desa Kebon Dalem, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini letaknya di atas bukit bebatuan yang disebut Gunung Sari, dan di sebelah Gunung Sari terdapat sebuah bukit yang lebih tinggi yang disebut Gunung Srawet yang dikelilingi hutan jati dengan aura terasa angker.
Pura ini bisa dijangkau melalui Desa Kebon Dalem, Dusun Tanjung Rejo. Di desa ini terdapat kumpulan umat Hindu Jawa asli yang jumlahnya sekitar tiga puluh kepala keluarga. Kelompok masyarakat Hindu Jawa Gunung Srawet ini mengempon sebuah pura desa / pura banjar yang diberi nama Pura Puja Dharma yang terdiri dari sebuah padmasana sebagai pelinggih utama. Dilengkapi dengan bangunan penunjang sejenis pendopo yang berfungsi seperti bale banjar di Bali. Bale ini juga digunakan untuk pasraman bagi anak-anak Hindu Gunung Srawet. Dari pura ini, umat yang akan tangkil ke Pura Sunialoka mesti naik kendaraan roda empat dengan ukuran yang lebih kecil dari bus. Sebab jalan menuju ke lokasi pura agak sempit. Jarak antara bale banjar dengan pura kurang lebih satu kilometer.
Mengenai sejarah berdirinya pura Sunialoka Gunung Srawet diceritakan oleh Romo Mangku Sukarno sebagai berikut. Berawal adanya kejadian aneh di luar nalar yakni pada awal tahun 2000 - an sekitar jam satu siang, cuaca cerah,  di atas bukit Srawet tampak kereta kencana yang ditarik enam ekor kuda melayang-layang di atas Bukit Srawet. Banyak masyarakat menyaksikan hal tersebut. Masyarakat menduga pesawat helikopter, setelah diamati dengan seksama ternyata kereta kencana. Kejadian tersebut terlihat sangat jelas di siang hari dan dalam waktu lama yakni sekitar satu setengah jam.
Atas kejadian terrsebut, para pemuka masyarakat dan para spiritualis melakukan semedi di atas Bukit Srawet. Dari semedi tersebut ada salah seorang diantaranya disabdakan bahwa agar di tempat tersebut dibangun sebuah tempat pemujaan Hyang Maha Kuasa. Dalam hal ini diterjemahkan dengan membangun Pura.
Singkat cerita, proses pembangunan pura di wilayah mayoritas umat non Hindu tidaklah mudah. Karena masa sebelumnya, umat untuk bersembahyang ke pura harus sembunyi-sembunyi. Untuk membuat penjor di hari raya saja kadangkala penjornya ditebas oleh orang tak dikenal. Atas tantangan tersebut, para pemuka Hindu di sana sangat hati-hati agar tak menimbulkan gesekan sosial.
Diceritakan kemudian seorang kepala Desa Bangorejo mengalami sakit keras. Sudah dibawa ke dokter dan bolak balik keluar masuk rumah sakit, tak sembuh-sembuh. Sudah sekian banyak dukun yang mengobati juga tak sembuh-sembuh. Maka pada suatu hari, Bapak Kepala Desa bertemu dengan seseorang asal Bali. Orang ini kemudian mengantarkan bapak kepala desa untuk berobat. Dan apa yang terjadi?. Bapak kepala desa yang sudah bertahun-tahun sakit, tiba-tiba berangsur sembuh.
Bapak Kepala Desa saat teringat bahwa warganya yang pemeluk Hindu berniat membangun tempat pemujaan di Bukit Srawet. Namun rencana tersebut belum terealisas akibat ijin penggunaan lahan Puncak Gunung Srawet. Sebagai ucapan terimakasih dari bapak kepala desa kepada orang yang telah mengantarkan ia berobat dan sembuh, maka tanah di kawasan Gunung Srawet diijinkan untuk dibangun tempat pemujaan. Kawasan tersebut sejatinya adalah tanah milik desa, namun agar tak terjadi ketersinggungan dengan umat lain, atau kepala desa dianggap tak adil, maka kepala desa mengundang Parisada Kecamatan Bangorejo Banyuwangi untuk membicarakan hal tersebut. Dan untuk resminya, Parisada kecamatan bersama dengan  masyarakat desa di sana diwajibkan mengajukan permohonan kepada pemerintah dalam hal ini pemerintah Desa. Permohonan inilah dijadikan dasar oleh bapak kepala desa untuk memberikan ijin kepada umat Hindu untuk membangun  pura di Bukit Srawet.
Pura mulai dibangun tahun 2003 dan selesai tahun 2009, didanai dari punia umat baik di daerah sekitar Srawet, Banyuwangi, dan dari Bali. Pelinggih yang dibangun adalah Pelinggih  Tugu tempat semayam dari Mbah Jenggot, sosok niskala penjaga Gunung Srawet. Pelinggih Penglurah dan Tugu Pengapit, Gedong Candi Batu Tumpang Pitu sebagai tempat pemujaan kehadapan Mpu Bradah dan Raja Airlangga sebagai tokoh utama pada jaman kerajaan Kediri di Jawa Timur, yang diyakini sebagai titisan Wisnu. Pelinggih Padmasana sebagai tempat pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Pura Kahyangan Jagat Sunia Loka disungsung sedikitnya 4.500 umat Hindu di Kecamatan Bangorejo dan sekitarnya. Rangkaian pemelaspas dimulai dengan upacara Mepepada di Batu Gajah lereng Srawet, dilanjutkan Tawur Manca Kelud, Pemakuhan dan Pemelaspasan, Jumat (25/12/2009). Karya pemelaspas dipuput sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, Ida Pedanda Gede Putra Sigaran, Ida Bhagawan Dharmika Tanaya dan Ida Pandita Empu Nabe Jaya Dangka Suta Reka.
Di kawasan ini diyakini sebagai petilasan dari Mpu Bradah, seorang brahmana pada jaman kerajaan Kediri dengan rajanya Raja Airlangga. Di sini adalah tempat beliau beryoga semadi apabila beliau beranjangsana ke daerah timur Jawa atau tanah Blambangan, serta ketika beliau berkehendak pergi ke tanah Bali. Selain itu tempat ini juga sebagai tempat anjangsana dari Ratu Sesuhunan Kidul / Ratu Pantai Selatan, sehingga pada hari selasa kliwon / anggarkasih selalu dilakukan ritual tertentu di pura ini.
Odalan di pura ini dilaksanakan pada hari Purnama Kelima. Banten yang digunakan saat odalan adalah kolaborasi antara Banten Bali dan banten Jawa. Namun didominasi oleh banten jawa. Banten Bali yang dipakai dalam odalan hanyalah pejati, beakaon, prasita, dan durmanggala. Yang lainnya adalah ayaban atau sodan dalam bentuk banten jawa.
Menurut dari pemedek yang pernah tangkil ke Gunung Srawet, bagi mereka yang memiliki indra keenam atau kemampuan kontak dengan dunia niskala, maka ketika memasuki kawasan suci Pura Sunialoka Srawet pastilah akan disapa oleh sosok gaib tua berjenggot dan agak bungkuk. Itulah sosok niskala penunggu Gunung Srawet yang disebut Mbah Jenggot. Dan menurut beberapa pemedek mengatakan bahwa aura di Gunung Srawet masih sangat alami, sangat kental aura kesucian dan aura magisnya. Sehingga tempat ini sangat cocok untuk melakukan tapa brata yoga semadi, memuja kebesaran dan kemuliaan Hyang Maha Kuasa. Selain aura pura Gunung Srawet yang sangat angker, tempat ini juga menyuguhkan pemandangan yang indah. Dari atas bukit Srawet para pemedek dapat melihat pemandangan daerah sekitarnya, serta melihat pemandangan laut selatan seperti Pulau Merah dan Alas Purwo yang tampak di kejauhan.
(Sumber: http://kanduksupatra.blogspot.co.id/)