Yo bhutam cabhavyam ca. Sarvam yascadhitisthati. Svar yasyaca kevalam tasmai. Jyesthaya Brahmane namah (Atharvaveda X.8.1.). Artinya: (Tuhan Yang Maha Esa hadir dimana-mana, asal dari segalanya yang telah ada dan yang akan ada. Ia penuh dengan rahmat dan kebahagiaan. Kami memuja Engkau, Tuhan Yang Maha Tinggi.

Minggu, 23 April 2017



Banyuwangi - Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Timur (PHDI) menggelar Dharma Santi dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi di Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Minggu (23/4/2017).

Tarian kolosal Kidung Maha Wilwatikta mampu membuat ribuan umat Hindu Jawa Timur terpukau. Tarian yang dibawakan 36 penari ini menceritakan ketegasan Ratu Tribuwana Tunggadewi menumpas pemberontak di daerah Sadeng. Patih Gajah Mada yang memimpin pasukan pun berhasil memadamkan api pemberontakan.

Lalu Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, yakni tidak akan makan makanan enak berbumbu rempah sebelum nusantara bersatu.

Ketua Panitia Dharma Santi Provinsi Jawa Timur, Suminto mengatakan, pihaknya memilih Banyuwangi menjadi tempat acara bukan tanpa alasan. Banyuwangi dianggap memiliki pertumbuhan ekonomi, pendidikan, budaya dan wisata yang baik.

"Banyuwangi juga belum pernah menjadi tempat Dharma Santi untuk saling bertemu antar umat. Umat Hindu di Banyuwangi juga yang terbesar di Jatim yakni mencapai hampir 40 ribu orang," kata Suminto. (Int)

Kamis, 13 April 2017



(Bimas Hindu Jawa Timur) - Kerukunan mencerminkan hubungan timbal balik yang ditandai oleh sikap saling menerima, saling mempercayai, saling menghormati dan menghargai, serta sikap saling memaknai kebersamaan. Toleransi merupakan hal mutlak agar kerukunan antar umat beragama semakin kuat.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jatim, Dr. H.Mustain, M.Ag dalam kegiatan Dialog Kerukunan Pandita/Pinandita/Tokoh Agama/Cendekiawan/Tokoh Masyarakat/Pemuda/Wanita yang diselenggarakan oleh Bimas Hindu Kemenag Jatim.
“Jawa Timur bersyukur tidak memiliki kasus kerukunan antar umat beragama mengingat kuatnya rasa toleransi yang dimiliki tiap warganya,” kata Musta’in di Aula Kanwil Kemenag Jatim, Kamis (13/04/2017).
Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Jawa Timur, Ida Made Windya, M.Ag menegaskan untuk memperkuat kerukunan diperlukan kerjasama baik dalam tataran hidup keseharian antar tetangga, antara ormas keagamaan, antar umat yang berbeda agama maupun antara umat beragama dengan pemerintah daerah.
Ia menambahkan, kegiatan yang mengambil tema ‘Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI’ ini diikuti oleh 160 peserta dari seluruh elemen umat Hindu Jawa Timur.
Dr. I Ketut Sudiartha., M.Pd.H dalam materinya ‘Peran PHDI ( Lembaga Agama) dalam Pembinaan dan Penguatan Kerukunan Umat Beragama’ mengungkapkan PHDI berperan dalam mengembangkan nilai kehidupan yang mendorong terwujudnya sikap dan perilaku yang bertanggung jawab, peduli, rukun dan harmonis di lingkungan intern, antar umat beragama dan dengan pemerintah.
Sedangkan Prof. Ir. I Nyoman Sutantra M.Sc., Ph.D dalam materi ‘Memperkokoh Toleransi kebhinekaan berbangsa bernegara demi keutuhan NKRI’ memaparkan bahwa toleransi yang baik adalah yang sadar akan kebhinekaan, dengan beradab dan bijak membangun NKRI dengan bingkai nilai-nilai luhur pancasila.
“Kebhinekaan diciptahan Tuhan untuk saling mengisi, saling memberi, saling melengkapi. Kehidupan diciptakan Tuhan sebagai wadah kebhinekaan dalam kesatuan dengan saling mengasihi,” kata I Nyoman Sutantra.
Sedangkan Ida Pedanda Gde Anom Jalakarana Manuaba menegaskan bahwa keharmonisan bisa terwujud dengan penguatan integritas moral dan kepribadian yang bersumber dari keluhuran nilai nilai spiritualitas keagamaan serta mengembangkan rasa solidaritas yang tinggi dalam upaya menjalin persatuan dan kesatuan yang kokoh.

Senin, 20 Februari 2017








Tim MGMP Provinsi Jawa Timur menyusun soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di Regent's Park Hotel, Malang, 20 s/d 22 Februari 2017.


(Bimas Hindu Jawa Timur) - Selain berbasis karakter, tata cara pembelajaran kurikulum 2013 lebih difokuskan kepada menyimak, mengamati, menanya, mempraktek, menalar kemudian mengkomunikasikan.
Hal tersebut disampaikan oleh Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya, M.Ag dalam kegiatan Orientasi Implementasi Kurikulum 2013 Guru Pendidikan Agama Hindu Tingkat Dasar dan Menengah Angkatan I yang diselenggarakan oleh Bimas Hindu Jawa Timur.
“Kurikulum 2013 mengutamakan pada pemahaman skill dan pendidikan karakter. Siswa dituntut paham materi, aktif dalam proses berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun dan sikap disiplin yang tinggi,” kata Ida Made Windya ketika memberikan sambutan di Regent Park Hotel, Malang, Senin (20/02/2017).
Salah satu narasumber, Miswanto, M.Pd.H, mengungkapkan ada beberapa aspek yang terkandung dalam kurikulum 2013, antara lain pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam aspek pengetahuan, lebih ditekankan pada tingkat pemahaman siswa dalam bidang pelajaran. Hal tersebut bisa diperoleh dari Ulangan Harian, Ujian Tengah dan Akhir Semester, dan Ujian Kenaikan Kelas.
Sedangkan aspek keterampilan lebih ditekankan pada kemampuan mengemukakan opini, berdiskusi, membuat berkas laporan, dan melakukan presentasi. Aspek sikap meliputi perangai sopan santun, sosial, absensi dan agama.
Hal senada juga disampaikan oleh Drs. I Ketut Artha. Laporan belajar atau rapor pada kurikulum 2013 ditulis pada interval serta dihapusnya sistem ranking. “Upaya penilaian pada rapor di kurikulum 2013 dibagi menjadi tiga kolom yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap,” pungkas I Ketut Artha. (Titah)

Selasa, 07 Februari 2017





(Bimas Hindu Jatim) - Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI mengadakan kegiatan Rakor Perencanaan Pusat Daerah, dan Perguruan Tinggi Agama Hindu, 7 s/d 10 Februari 2017 di Hotel Grand Pasundan, Bandung, Jawa Barat.
Ketua Panitia Rakor, Ida Bagus Manuaba mengatakan kegiatan ini merupakan gambaran dari sasaran program yang ditetapkan dalam Renstra Ditjen Bimas Hindu tahun 2015 – 2019 yang diwujudkan Bimas Hindu melalui kegiatan tahunan.
Hal tersebut seiring dengan arah kebijakan reformasi Birokrasi di mana penyusunan Rencana Kerja (Renja) harus memperhatikan keterkaitan secara jelas antara perencanaan dan penganggaran yang merepresantasikan keselarasan arah kebijakan Direktorat.
“Perlu adanya sinkronisasi antara perencanan anggaran antara pusat daerah dan perguruan tinggi. Penyusunan Renja dapat menjadi sarana dalam menetapkan langkah-langkah strategis guna mewujudkan perencanaan program kerja secara komprehensif dan terintegrasi, serta tercipta pengelolaan uang negara yang lebih akuntabel serta peningkatan kualitas laporan tahunan,” papar Ida Bagus Manuaba.
Mengambil tema ”Rapat Koordinasi Pejabat Pusat, daerah dan perguruan tinggi negeri Agama Hindu 2018 Sebagai Wahana Memperkuat Perencanaan dan Penganggaran 2018 Berbasis Money Follow Program”, tertuang harapan sekaligus tantangan agar tercipta perencanaan yang baik sehingga revisi anggaran bisa diminimalisir. Anggaran yang ditetapkan harus sesuai dengan keutuhan masyarakat, tepat guna dan tepat sasaran.
Ida Bagus Manuaba menambahkan dengan adanya persamaan persepsi akan meningkatkan komitmen sekaligus mensukseskan program kerja Ditjen Bimas Hindu tahun 2015 – 2019. Penganggaran Money Follow Program juga mendukung pendekatan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2017, yaitu perencanaan yang holistik (menyeluruh), tematik (terfokus), terintegrasi (terpadu), dan spasial (lokasi yang jelas).
“Mendapat data perencanaan yang akurat untuk mengalokasikan angaran pusat dan daerah sesuai kebutuhan di daerah dengan skala prioritas agar selaras dengan Renstra Ditjen Bimas Hindu,” ungkap Ida Bagus Manuaba.
Rapat Koordinasi tahun ini diikuti lebih kurang 140 peserta yang berasal dari Ka-Kanwil Prov. Bali, Pempinan Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri (PTAHN), Ka-Kandepag/Kota se-Prov. Bali, Kabid/Pembimas Kanwil Kementerian Agama se-Indonesia, Ka Percan Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali, Kasi Kanwil kementerian Agama Prov. Bali dan Prov. NTB, Penyelenggara Hindu di Kab/Kota Se-Indonesia, penyuluh, dan Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Ditjen Bimas Hindu.