Senin, 11 Juli 2016

Pura Agung Blambangan Banyuwangi


Pura Agung Blambangan yang ada di Kecamatan Muncar merupakan pura terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Pura ini sering dikunjungi umat Hindu Bali terutama saat merayakan Hari Raya Kuningan.

Edi Purwanto pengemong Pura Agung Blambangan menjelaskan Hari Raya Kuningan bersamaan waktunya dengan piodalan Pura Blambangan. 

Hal ini menarik minat banyak umat Hindu asal Bali yang datang untuk berdoa. 

"Piodalan adalah hari lahirnya Pura Agung Blambangan yang memiliki kaitan sejarah dengan masyarakat Bali," kata Edi

Menurut Edi, nenek moyang masyarakat Bali sebagian dari kerajaan Blambangan yang ada di Banyuwangi. Pura Agung Blambangan sendiri dibangun pada tahun 1974.

Pura Agung Blambangan, awalnya merupakan situs umpak songo, peninggalan zaman kerajaan Blambangan. 

Pura ini lalu pindah ke tempat sekarang dengan luas lahan sekitar satu hektar dan bisa menampung sekitar seribu umat untuk berdoa bersama. 

Dari catatan Edi, saat ini umat Hindu di Kabupaten Banyuwangi ada sekitar 17 ribu jiwa ditambah dengan umat Hindu dari Bali jumlahnya cukup banyak. 

"Kami beberapa kali mengadakan persembayangan yang dipimpin 21 pemangku. Umat datang mulai pagi hingga malam," jelas Edi. 

Upacara tersebut dilakukan selama tiga hari untuk memberikan kesempatan umat yang tidak sempat sembayang saat puncak perayaan. 

Selain perayaan Kuningan, menurut Edi banyak juga masyarakat Bali yang datang untuk melakukan wisata religi dari agen tour asal Bali atau dari pemerintah Bali.

Ada juga beberapa wisatawan mancanegara yang datang karena tertarik dengan struktur bangunan Pura Agung Blambangan yang sangat indah. 

Pura Agung Blambangan sendiri merupakan pura terbesar diantara 92 buah pura yang ada di Kabupaten Banyuwangi. 

Sebagai catatan, untuk masuk ke dalam pura, pengunjung wajib menggunakan selendang yang diikat pada pinggang.

Sumber: Kompas

Kamis, 23 Juni 2016

Ciptakan Peserta Didik Hindu Berprestasi


Malang (Bimas Hindu Jawa Timur) – Kualitas pendidikan agama Hindu di Jawa Timur mengalami peningkatan yang signifikan. Guru dan pengawas memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kompetensi guru agama Hindu di Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, H. Mustain dalam kegiatan Orientasi Peningkatan Kompetensi Guru Agama Hindu Tingkat Dasar dan Menengah Angkatan II.
“Guru dan pengawas yang bekerjasama dengan Bimas Hindu Jawa Timur memiliki andil yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Hindu. Salah satu cara agar kualitas guru dan pengawas semakin bagus misalnya dengan menulis di jurnal agar bisa naik pangkat,” ujar Mustain ketika memberikan sambutan mewakili Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Mahfudh Sodar, Rabu (22/06/2016) di Same Hotel, Malang.
Hadir sebagai narasumber Ida Made Windya dengan materi ‘Pengembangan Diri dan Sumber Belajar Sebagai Peningkatan Kompetensi Guru’,  I Wayan Sutama dengan materi ‘Penelitian Tindakan Kelas’, I Wayan Arsana dengan materi ‘Strategi dan Perangkat Pembelajaran Agama Hindu’, I Nengah Parta dengan materi ‘Kearifan Lokal dalam Pengembangan Materi Ajar Agama Hindu’ dan I Wayan Legawa dengan materi ‘Evaluasi dan Penilaian Hasil Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu’
Pembimas Hindu Jawa Timur, Ida Made Windya mengatakan tujuan pendidikan bisa tercapai jika guru agama Hindu memiliki kompetensi dan profesionalitas. “Guru yang sukses adalah memiliki siswa yang berprestasi, taat kepada ajaran agama, serta  bisa berdedikasi kepada bangsa dan negara,” tegas Ida Made Windya ketika menyampaikan materi.
Ia menambahkan guru wajib memiliki energi dan antusiasme yang besar. Selain itu, guru juga harus mengetahui bagaimana untuk membangkitkan energi orang lain. Pemateri lain, I Wayan Arsana mengungkapkan sebagian besar siswa sulit menguasai materi pembelajaran. “Guru agama Hindu wajib mengubah gaya pembelajaran dari orientasi guru ke orientasi siswa,” tegas Wayan Arsana.
Guru hendaknya sebagai fasilitator dan moderator selama proses pembelajaran di kelas. Selain itu, pembelajaran juga harus berpusat pada siswa, sekaligus memberikan mereka kesempatan untuk aktif, kreatif, berpikir kritis dan komunikatif.
Salah satu peserta asal Blitar, Nyoman Kertayasa mengungkapkan sikap dan karakter siswa yang baik merupakan hal dasar dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) peserta didik Hindu yang berkualitas. “Membuat peserta didik pintar itu gampang, tapi membuat orang yang mempunyai mental kuat dan baik tidak gampang. Kita akan berusaha buat peserta didik yang kreatif,” pungkas Kertayasa. *Titah Pratyaksa